Sms dari mas imam dan angga membuatku tak sabar menunggu adzan isya' untuk dapat segera sholat dan menuju meeting point di JEC. Bismillah ....Pukul 19.15 akhirnya.. aku dari kantor langsung menuju rumput depan JEC. Sempat duduk dan tiduran pula untuk mengistirahatkan badan dan otak sejenak dari urusan angka dan huruf. Eh nggak tahunya ada yg nyamperin dan ngasih tahu angga parkir di sebelah timur. Oke deh pindah.... Menunggu Imam.. menunggu ..me .. eh datang juga bawa teman. Ternyata sudah 20.30.
Perjalanan berlima dimulai menuju minimarket terdekat untuk beli bekal minum dan makanan. waduh ada yg semangat belanjanya, dikira mau camping nih..? Goes lagi menyeberang RR timur, merangsek ke pemukiman dan akhirnya jalanan tanah gelap, sempat ada yg heran kok rutenya muter2,he..he... jadi ingat aku juga berpikiran sama saat pertama kali NR krasak. Keluar masuk kampung yang sebagian besar ramai orang diluar rumah karena juga merayakan tahun baru dengan caranya masing2, ada yg sekedar nongkrong ditemani uyon-uyon, main kartu, bakar jagung dll. Dan yg paling sering berkomentar saat rombongan kami lewat adalah ..tentu saja anak-anak, dan .. cewek2 imut. Untung sepeda nggak ada boncengannya.. uh.
Tak terasa sudah dekat desa rumahku, tapi kali ini bukan untuk pulang. Lewaaaat saja terus menuju tepi sungai Opak, diawali turunan curam dan .. kayaknya ada yg gubrak tuh. Di tepi sungai istirahat sejenak untuk setting rem sepeda Imam dan karena ada yg pakai lampu halogen yg sudah pasti boros batere dan akhirnya nyalanya redup, ganti deh pakai lampu led ku. Kebetulan aku bawa 3 buah lampu. 2 di handle bar dan 1 head lamp yg segera ku pasang di helm. Yuuk lanjut menelusuri double track panjang tepian sungai, tapi waduuh jalanan penuh batu kali yg besar2 sehingga harus extra hati-hati. Di ujung track batu kali harus menanjak untuk keluar dari sungai. Dan peradaban kembali terasa. Goes pelan untuk ambil napas sejenak. Masuk aspal menyeberangi sungai dan kembali mblusuk sedikit lewat jalan batu putih. Licin sekali kalau basah. Eh sebentar kemudian aspal lagi dan 100 meter ke depan masuk tanah lagi menuju bukit kecil.
Ini asiknya offroad habis hujan, ada jalan tanah becek berumput, jadi jika lewat sepeda seperti melayang karena roda belakang selip terus. Belok kanan dan ... kuburan, tapi di sampingnya ada jalan setapak. Dalam kondisi jalan yg kadang sangat samar keberadaannya seperti ini, head lamp murmer ini sangat membantu. Goa Jepang hanya kami tengok sebentar, hii gelap sekali, penduduk setempat juga nggak kelihatan. Langsung saja goes jalanan semen membelah turun bukit dan onroad menuju jl piyungan, menyeberang dan lurus menuju kampung teletubies.
Ternyata ramai sekali di kampung ini, pada badminton & bakar jagung. Jagungnya tinggal petik di sebelahnya. Cukup lama istirahat disini, makan minum, foto dan berinteraksi dengan warga setempat. Lihat jam... 11.00
Tik..tik..tik gerimis menebar hawa dingin, harus segera goes nih agar tidak kedinginan Ketemu lagi single track, tapi kali ini super becek, licin dan tanahnya lengket. Berkali-kali kaki harus turun, roda depan dan belakang tidak searah goyang teruuus. Eh..di depan kami ada motor yg nekat masuk jalur ini dan lolos dengan mesin menderu-deru. Lepas dari sini musti rehat dulu untuk membersihkan sepeda dari lumpur, ilalang dan ranting yg nyangkut sepeda. Dan lumpur bermasalah untuk pemakai V-brake. Genjotan selanjutnya di jalan berbatu kerikil, lumpur di ban membawa kerikil berhamburan ke udara, untung nggak sampai kelilipan. Rintik hujan makin rapat dan senang sekali bila dapat melibas genangan air untuk sedikit membersihkan ban. Menyusuri selokan kecil dan tiba-tiba sudah berada di tengah kebun tebu. Lagi-lagi genjot di tanah labil dengan ban goyang kanan kiri. Jalan berubah menjadi batuan kapur yg nggak kalah licinnya. Lumayan panjang track ini, di sini pula pas pergantian tahun berlangsung.. Kami rayakan dengan jabat tangan dan ucapan SELAMAT PAGI...!!. Imam sempat jatuh pula, Berapa kali jatuh Mas imam....? Piss. Kayuh...Uh.. uh.. dan weeer..aspal mulussss. Tanjakan ke bukit candi Boko makin dekat.
Candi Banyunibo kalo malam tak berlampu jadi tidak kelihatan saat kami melintas di dekatnya. Dan tibalah saatnya menghabiskan tenaga untuk sampai ke Candi Boko. Langsung set gigi paling ringan. Wah si Nukleus melesat duluan, saat meregang napas banyak orang yg sedang turun memperhatikan 5 orang aneh ini. Akhirnya sepeda tersandar di parkiran Candi Boko dengan iringan kata Alhamdullilah.... begitu pula kami terduduk membisu dan napas kencang di 00.30.
Ada satu jam di komplek ini, sms-an, aktivitas toilet, makan dan minum bekal. Ada ide sensasional untuk turun tidak naik sepeda, tapi dinaiki sepeda, alias lewat tangga. Tapi karena nggak akur akhirnya lewat jalan sesuai aturan.
Diiiingiiin begitu kami turun menuju pasar Prambanan untuk cari kehangatan di angkringan. Dua kali berhenti, dua kali jawaban "nasi nya habis mas!!". Untung ada yang ketiga. Langsung Susu Jahe dan nasi sambel jadi andalan ketika jam 01.40.
Dalam perjalanan terakhir menyusuri jalan solo, .... eh nggak usah diceritakan.
Hikmah: Paling utama dalam NR adalah penerangan. Cek kondisi lampu, jika lampu berlebih lebih baik dibawa sekalian untuk cadangan baik diri sendiri maupun teman. Bawa juga batere cadangan.
Kamis, Januari 01, 2009
Selasa, November 25, 2008
Aku Cinta Indonesia: Memulai dalam lingkup yang paling kecil
Menyentuh sekali kampanye partai gerindra di tv, ajakan untuk kembali memakai produksi dalam negri dan mengkonsumsi hasil petani kita sendiri, menggugah saya untuk kembali sadar bahwa selama ini betapa kita telah di jajah kembali. Terutama produk China yang telah membabi buta di seluruh dunia. Tapi sekarang banyak produk Cina bermasalah dengan kesehatan maupun lingkungan.
Krisis ekonomi yang terjadi saat ini tidak akan terlalu berdampak bagi masyarakat bila kita berusaha untuk mandiri memenuhi kebutuhan sendiri. Hal baik telah dimulai Pak SBY dengan berhasilnya swasembada beras.
Lingkup yang lebih kecil baiknya dimulai dari lingkungan sendiri. Lebih memprioritaskan untuk membelanjakan uang kita di sekitar dalam area yang kecil. Misalnya kalau hanya beli sandal jepit untuk kamar mandi belilah di warung terdekat kita, nggak usah sampai supermarket gede. Begitu pula belanja sayuran. Hal ini juga bermanfaat untukmenjalin silaturahmi dengan tetangga. Tapi jika belanjaan bulanan yang banyak akan lebih ekonomis jika ke supermarket atau pasar tradisional untuk sayurannya. Karena warung biasanya akan lebih mahal karena menerapkan margin yang lebih dari supermarket. Dan pilih supermarket yang pemiliknya orang terdekat kita, baik secara teritorial atau sosial. Selain itu produk yang kita beli juga dipilih produk lokal. Tapi kadang kita terbentur masalah kwalitas dan harga. Tinggal kita hitung hitung mana yang menjadi prioritas. Hal akan berefek luar biasa pada ekonomi daerah sekitar kita. Bayangkan uang belanja kita pergi tidak sampai jauh, hanya sampai ke tetangga. Dan pastinya akan berpeluang kembali ke kita, dalam apapun bentuknya. Sejahteralah lingkungan kita.
Krisis ekonomi yang terjadi saat ini tidak akan terlalu berdampak bagi masyarakat bila kita berusaha untuk mandiri memenuhi kebutuhan sendiri. Hal baik telah dimulai Pak SBY dengan berhasilnya swasembada beras.
Lingkup yang lebih kecil baiknya dimulai dari lingkungan sendiri. Lebih memprioritaskan untuk membelanjakan uang kita di sekitar dalam area yang kecil. Misalnya kalau hanya beli sandal jepit untuk kamar mandi belilah di warung terdekat kita, nggak usah sampai supermarket gede. Begitu pula belanja sayuran. Hal ini juga bermanfaat untukmenjalin silaturahmi dengan tetangga. Tapi jika belanjaan bulanan yang banyak akan lebih ekonomis jika ke supermarket atau pasar tradisional untuk sayurannya. Karena warung biasanya akan lebih mahal karena menerapkan margin yang lebih dari supermarket. Dan pilih supermarket yang pemiliknya orang terdekat kita, baik secara teritorial atau sosial. Selain itu produk yang kita beli juga dipilih produk lokal. Tapi kadang kita terbentur masalah kwalitas dan harga. Tinggal kita hitung hitung mana yang menjadi prioritas. Hal akan berefek luar biasa pada ekonomi daerah sekitar kita. Bayangkan uang belanja kita pergi tidak sampai jauh, hanya sampai ke tetangga. Dan pastinya akan berpeluang kembali ke kita, dalam apapun bentuknya. Sejahteralah lingkungan kita.
Kamis, November 13, 2008
On Progres: Fasilitas Jalur & Parkir Sepeda di Jogja
Teringat tahun 2006 lalu di Jogja membentang jalur sepeda dengan pembatas cat putih di beberapa jalan menuju/dekat kampus. Dan beberapa kampus seperti UGM dan UII membuat jalur sepeda sendiri di dalam kawasannya, bahkan meminjamkan sepeda kepada penghuni kampus untuk dipergunakan di wilayah tersebut.
Dan baru-baru ini beberapa komunitas sepeda termasuk B2W chapter Jogja diundang untuk memberikan masukan tentang fasilitas jalur sepeda dan tempat parkir sepeda di kota Jogja. Pak Walikota berharap agar tahun 2009 pembangunan fasilitas sepeda ini sudah masuk dalam anggaran belanja pemerintah dan kabarnya DPRD pun sudah ok.
Ini menandakan bahwa Pak Wali tidak main-main dalam meluncurkan program SEGOSEGAWE 17 oktober 2008 silam, akan terus dikawal pelaksaannya dan juga di beri fasilitas yg memadai. Tinggal tunggu saja tanggal mainnya.
Bagaimana warga Jogja menyikapinya? Tentunya bagi yang belum bersepeda. Sejak SEGOSEGAWE diluncurkan ada yang senyum tapi banyak sekali juga yang cemberut habis-habisan. Terutama mereka para PNS dan anak sekolah yang kena Perwal yang mengharuskan mereka bersepeda jika jarak rumah kurang dari 5 km. Senyuman bagi orang yang memang sudah suka bersepeda dan hanya menunggu momen tepat saja untuk mulai B2W. Mungkin sebelumnya nggak kuat mental untuk sepedaan ke kantor sendirian, dan sekarang mulai bermunculan teman baru.
Aku yang sudah rutin bersepeda, berharap akan banyak teman saat B2W. Fasilitas yang akan dibuat pun, karena aku tinggal di desa dan kantorpun di pinggiran kota, nggak akan banyak berpengaruh bagi kegiatanku bersepeda. Ke pusat kota paling 1 minggu sekali pas ngumpul komunitas B2W di UGM atau belanja. Jalur sepeda yang ada sekarang saj
a, karena batasnya hanya cat bukan devider permanen, seakan-akan malah jadi pembatas parkir mobil & motor. Tapi actually bukan salah yg parkir, yah salah tapi nggak nyampe 20%. Mereka pakai parkir memang karena yang pakai jalur tsb hampir nggak ada, dan aparat, polisi, DLLAJ pun nggak bertindak apapun. Parahnya lagi mereka nggak tahu kalo itu jalur sepeda! Jadi?
Justru yang masih menggangu aku saat harus ke perkotaan, terutama jika harus mampir ke tempat fasilitas umum adalah tidak adanya tempat parkir. Bahkan sepeda sering dipinggirkan jika di kawasan parkir. Emang ada yang gratis, tapi lebih enak bayar berapapun itu asal mendapatkan tempat dan keamananan yang layak. Seperti di Galeria, parkir sepeda Rp. 200. Di malioboro parah sekali, gratis tapi di tempatkan entah dimana, disingkirkan semahal apaun sepedanya (tukang parkirnya nggak tahu ada sepeda mahal kali!). Berharap akan ada aturan yang baku dan tertib pelaksanaannya. Sehingga pesepeda akan makin aman dan nyaman di jalan. Semakin banyak pesepeda akan semakin dihargai dimata pengguna jalan lain.
Terimakasih Pak HZ.
Dan baru-baru ini beberapa komunitas sepeda termasuk B2W chapter Jogja diundang untuk memberikan masukan tentang fasilitas jalur sepeda dan tempat parkir sepeda di kota Jogja. Pak Walikota berharap agar tahun 2009 pembangunan fasilitas sepeda ini sudah masuk dalam anggaran belanja pemerintah dan kabarnya DPRD pun sudah ok.
Ini menandakan bahwa Pak Wali tidak main-main dalam meluncurkan program SEGOSEGAWE 17 oktober 2008 silam, akan terus dikawal pelaksaannya dan juga di beri fasilitas yg memadai. Tinggal tunggu saja tanggal mainnya.
Bagaimana warga Jogja menyikapinya? Tentunya bagi yang belum bersepeda. Sejak SEGOSEGAWE diluncurkan ada yang senyum tapi banyak sekali juga yang cemberut habis-habisan. Terutama mereka para PNS dan anak sekolah yang kena Perwal yang mengharuskan mereka bersepeda jika jarak rumah kurang dari 5 km. Senyuman bagi orang yang memang sudah suka bersepeda dan hanya menunggu momen tepat saja untuk mulai B2W. Mungkin sebelumnya nggak kuat mental untuk sepedaan ke kantor sendirian, dan sekarang mulai bermunculan teman baru.
Aku yang sudah rutin bersepeda, berharap akan banyak teman saat B2W. Fasilitas yang akan dibuat pun, karena aku tinggal di desa dan kantorpun di pinggiran kota, nggak akan banyak berpengaruh bagi kegiatanku bersepeda. Ke pusat kota paling 1 minggu sekali pas ngumpul komunitas B2W di UGM atau belanja. Jalur sepeda yang ada sekarang saj
a, karena batasnya hanya cat bukan devider permanen, seakan-akan malah jadi pembatas parkir mobil & motor. Tapi actually bukan salah yg parkir, yah salah tapi nggak nyampe 20%. Mereka pakai parkir memang karena yang pakai jalur tsb hampir nggak ada, dan aparat, polisi, DLLAJ pun nggak bertindak apapun. Parahnya lagi mereka nggak tahu kalo itu jalur sepeda! Jadi?Justru yang masih menggangu aku saat harus ke perkotaan, terutama jika harus mampir ke tempat fasilitas umum adalah tidak adanya tempat parkir. Bahkan sepeda sering dipinggirkan jika di kawasan parkir. Emang ada yang gratis, tapi lebih enak bayar berapapun itu asal mendapatkan tempat dan keamananan yang layak. Seperti di Galeria, parkir sepeda Rp. 200. Di malioboro parah sekali, gratis tapi di tempatkan entah dimana, disingkirkan semahal apaun sepedanya (tukang parkirnya nggak tahu ada sepeda mahal kali!). Berharap akan ada aturan yang baku dan tertib pelaksanaannya. Sehingga pesepeda akan makin aman dan nyaman di jalan. Semakin banyak pesepeda akan semakin dihargai dimata pengguna jalan lain.
Terimakasih Pak HZ.
Sabtu, Oktober 25, 2008
SEPEDAAN KE IMOGIRI
Keinginan untuk mengajak teman sekantor untuk membuat mereka suka bersepeda sangatlah besar. Maka aku buat undangan untuk ikut sepedaan dengan rute ringan onroad tujuan Makam Imogiri sekitar 20km dari kota.
Sebelum hari H setelah aku email semua teman IAP Jogja ada beberapa yang respon undangan tersebut. Kebanyakan mereka mengeluh tidak punya sepeda. Tapi the show must go on. Apalagi ini sudah rute rutin bagi kami bertiga (aku, Yunianto, P.Rudy) di hari Minggu kalau lagi luang.
Dari rumah 05.10, jemput Pak Rudy dan sampai di Asrama Brimob jam 06.00, sudah siap Yunianto dan seorang kawannya. Kami menunggu 15 menit, eh mungkin masih ada yang mau datang ikutan. Ternyata harapan itu kosong dan mulailah berempat genjot. Diperjalanan ban sepeda Pak Rudy agak gembos dan mampir ke pompaan ban. Satu lagi teman bergabung dengan sepeda Unta hijau cerah, pickernya Yunianto. Jadilah ber-5.
Diperjalanan santai sambil ngobrol yang kebanyakan soal sepeda. Pak Rudy lagi ngebet mau upgrade sepeda. Dia sabtu kemarin barusan bersamaku ikutan acara Bike To Work dan terkompori melihat sepeda yang wow... . Jam 07.00 sudah sampai di Makam Imogiri dan seperti biasa kami tidak masuk ke makam tapi hanya di duduk-duduk di pelataran parkir sambil makan bubur atau pecel dengan wedang uwuh atau teh.
Selesai makan dan bicara sana sini di putuskan untuk pulang. Biasanya rute pulang ya sama dengan rute berangkat. Tapi aku penasaran dengan rute sebelah timur yang lewat pleret. Katanya memang menanjak di awal. Dan berenam (tambah satu lagi teman kebetulan rumahnya di selatan Ps.Ngipik) mulai genjot. Eh ternyata baru puluhan meter sang tanjakan 40 derajat ratusan meter sudah muncul menjulang tinggi. Weleh....... langsung oper gigi ringan dan up..up habis deh. Dipertengahan dengkul sudah gak kuat genjot karena telat oper gigi. Berhenti sejenak dan oper gigi paling ringan dengan tangan. Mulai genjot lagi dan sukses sampai atas. Tapi masih kalah sama sepeda balap biru Aji. Sepeda Unta hijau dan Pak Rudi TTB (tuntun bike). Suatu pelajaran terpetik hari ini, menanjak dengan perut kenyang sangat tidak nyaman. Aku langsung merasa sakit di perut di awal tanjakan (nasi pecelnya kebanyakan), bahkan sampai besok hari (senin) masih terasa. Pak Rudy yang cuma makan bubur pun merasakan hal serupa. Habis tanjakan terbitlah turunan. Kasihan sepeda hijau kembali di tuntun karena rem tidak memadai. Perjalanan selanjutnya lebih banyak tanjakan & turunan pendek. Sepeda hijau, Yuni dan temannya memisahkan diri terlebih dulu dan satu per satu menyusul untuk pulang, sampai aku sedirian melenggang. Rute ke rumah aku ambil rute biasa kalau ke kantor lewat persawahan dan pemukiman, tidak lewat jl wonosari yang membosankan.
Sampai di rumah belum ada jam 09.00 rupanya!
Kecewa berat karena nggak ada yang ikut.
Sebelum hari H setelah aku email semua teman IAP Jogja ada beberapa yang respon undangan tersebut. Kebanyakan mereka mengeluh tidak punya sepeda. Tapi the show must go on. Apalagi ini sudah rute rutin bagi kami bertiga (aku, Yunianto, P.Rudy) di hari Minggu kalau lagi luang.
Dari rumah 05.10, jemput Pak Rudy dan sampai di Asrama Brimob jam 06.00, sudah siap Yunianto dan seorang kawannya. Kami menunggu 15 menit, eh mungkin masih ada yang mau datang ikutan. Ternyata harapan itu kosong dan mulailah berempat genjot. Diperjalanan ban sepeda Pak Rudy agak gembos dan mampir ke pompaan ban. Satu lagi teman bergabung dengan sepeda Unta hijau cerah, pickernya Yunianto. Jadilah ber-5.
Diperjalanan santai sambil ngobrol yang kebanyakan soal sepeda. Pak Rudy lagi ngebet mau upgrade sepeda. Dia sabtu kemarin barusan bersamaku ikutan acara Bike To Work dan terkompori melihat sepeda yang wow... . Jam 07.00 sudah sampai di Makam Imogiri dan seperti biasa kami tidak masuk ke makam tapi hanya di duduk-duduk di pelataran parkir sambil makan bubur atau pecel dengan wedang uwuh atau teh.
Selesai makan dan bicara sana sini di putuskan untuk pulang. Biasanya rute pulang ya sama dengan rute berangkat. Tapi aku penasaran dengan rute sebelah timur yang lewat pleret. Katanya memang menanjak di awal. Dan berenam (tambah satu lagi teman kebetulan rumahnya di selatan Ps.Ngipik) mulai genjot. Eh ternyata baru puluhan meter sang tanjakan 40 derajat ratusan meter sudah muncul menjulang tinggi. Weleh....... langsung oper gigi ringan dan up..up habis deh. Dipertengahan dengkul sudah gak kuat genjot karena telat oper gigi. Berhenti sejenak dan oper gigi paling ringan dengan tangan. Mulai genjot lagi dan sukses sampai atas. Tapi masih kalah sama sepeda balap biru Aji. Sepeda Unta hijau dan Pak Rudi TTB (tuntun bike). Suatu pelajaran terpetik hari ini, menanjak dengan perut kenyang sangat tidak nyaman. Aku langsung merasa sakit di perut di awal tanjakan (nasi pecelnya kebanyakan), bahkan sampai besok hari (senin) masih terasa. Pak Rudy yang cuma makan bubur pun merasakan hal serupa. Habis tanjakan terbitlah turunan. Kasihan sepeda hijau kembali di tuntun karena rem tidak memadai. Perjalanan selanjutnya lebih banyak tanjakan & turunan pendek. Sepeda hijau, Yuni dan temannya memisahkan diri terlebih dulu dan satu per satu menyusul untuk pulang, sampai aku sedirian melenggang. Rute ke rumah aku ambil rute biasa kalau ke kantor lewat persawahan dan pemukiman, tidak lewat jl wonosari yang membosankan.
Sampai di rumah belum ada jam 09.00 rupanya!
Kecewa berat karena nggak ada yang ikut.
Sabtu, Oktober 18, 2008
Mengiring Pengantin Bersepeda Tandem
sepeda
Peristiwa langka yang sangat tidak mungkin untuk dilewatkan. Sepasang pengantin Mas Ari dan Mbak Vita berkehendak melakukan perjalanan dari Masjid tempat berlangsungnya ijab kobul ke rumah tempat resepsi dengan bersepeda tandem. Tidaklan heran karena keduanya adalah penggemar sepeda dan bergabung di B2W Chapter Jogja. Dan 40 rekan sekomunitas mengiringinya dengan Tshirt pink yang dipesan khusus untuk acara tsb.
18 oktober 2008 berangkat dari rumah pukul 05.00 pagi dan menuju rumah Pak Rudy untuk barengan ke Bunderan UGM sebagai meeting point rombongan pengiring manten. Telah menunggu sejumlah pesepeda lain di bunderan dan tepat jam 06.00 rombongan mulai bergerak ke Pakem, suatu tempat yang tidak mudah dituju bagi yang belum biasa dengan tanjakan terus menerus. Akupun ini baru kali ke 2. Maklumlah tempat ini merupakan jalur menuju Kaliurang, lereng gunung Merapi. Sampai di perempatan Kentungan ada beberapa teman lagi yang sudah siap menunggu dan berhenti sejenak, mungkin akan ada lagi yang datang. Ternyata tidak ada dan lanjut naik dan naik. Eh di perjalanan ada 3 teman lagi. Diperjalan baru ketahuan mana yang kuat dan yang belum terbiasa dengan tanjakan. Rombongan terpecah tapi para senior seperti biasa mengawal di paling belakang dan yang depan sesekali berhenti menunggu yang belakang. Akhirnya sampai juga di pakem dan belum ada yg terlihat TTB. Mampir dulu ke warung Ijo
untuk minuman hangat dan gorengannya. Agak lama berhenti disini, mungkin ada 20 menit. Ternyata perjalanan ke rumah mempelai masih harus naik lagi, tapi kayaknya hanya 2 km tapi kemiringan tanjakan kali ini lebih dari yang di bawah. Dan di akhir tanjakan itulah rumah pengantinnya.
Parkir sepeda di palang bambu yang sudah di sediakan tuan rumah, istirahat sembari menunggu yang lain. Eh pak Rudy datang dengan TTB rupanya. Akupun kalo nggak ada teman pasti sudah putar balik atau TTB dari tadi. Mulailah persiapan untuk jadi pengiring manten. Ambil Tshirt pink, dan kemudian dipakai bersama baju batik untuk acara akad nikah di masjid. Perjalanan ke masjid hanya beberapa menit saja karena cuma dekat, 300 meter lah kira-kira. Sukses akad nikah baju batik dilepas dan yang terlihat Tshirt pink nya. Rupanya pengantin wanita agak kesulitan untuk naik sepeda tandem Polygon biru ini, akhirnya dengan agak cincing kain bisa duduk ke sadel dengan nyaman. Dan mulailah kami genjot ke rumah pengantin yang tadi. andaikan acara mengiring manten ini rutenya lebih jauh, akan lebih berkesan dan kampanye sepeda akan lebih mengena. Iya kan ini bisa untuk kampanye atau promosi kegiatan bersepeda.
Selesai sudah acara mengiring manten, foto-foto sejenak dan persiapan untuk pulang. Beberapa teman ada yang pulang lewat offroad dan ada pula yang onroad sesuai kondisi sepeda yang dibawa. Aku dan dan Pak Rudy mencoba ikut offroad. Jalannya kan turun jadi nggak akan
seberat waktu ke krasak kemarin minggu. Blusukan ke sawah dan tepian sungai. Di perjalanan ternyata ban belakangku bocor setelah ber down hill ria di track berbatu. Untung ada yang bawa tools dan ban dalam cadangan. Thanks guys...Di bantu teman-teman akhir sepeda kembali siap melanjutkan perjalanan hingga masuk ke Ring Road Condong Catur. Di sini aku dan pak Rudi memisahkan diri dari rombongan, Pak Rudy pulang ke rumah dan aku ke kantor. Sampai kantor jam 12.40.dengan keringat bercucuran dan perut kelaparan.
18 oktober 2008 berangkat dari rumah pukul 05.00 pagi dan menuju rumah Pak Rudy untuk barengan ke Bunderan UGM sebagai meeting point rombongan pengiring manten. Telah menunggu sejumlah pesepeda lain di bunderan dan tepat jam 06.00 rombongan mulai bergerak ke Pakem, suatu tempat yang tidak mudah dituju bagi yang belum biasa dengan tanjakan terus menerus. Akupun ini baru kali ke 2. Maklumlah tempat ini merupakan jalur menuju Kaliurang, lereng gunung Merapi. Sampai di perempatan Kentungan ada beberapa teman lagi yang sudah siap menunggu dan berhenti sejenak, mungkin akan ada lagi yang datang. Ternyata tidak ada dan lanjut naik dan naik. Eh di perjalanan ada 3 teman lagi. Diperjalan baru ketahuan mana yang kuat dan yang belum terbiasa dengan tanjakan. Rombongan terpecah tapi para senior seperti biasa mengawal di paling belakang dan yang depan sesekali berhenti menunggu yang belakang. Akhirnya sampai juga di pakem dan belum ada yg terlihat TTB. Mampir dulu ke warung Ijo
Parkir sepeda di palang bambu yang sudah di sediakan tuan rumah, istirahat sembari menunggu yang lain. Eh pak Rudy datang dengan TTB rupanya. Akupun kalo nggak ada teman pasti sudah putar balik atau TTB dari tadi. Mulailah persiapan untuk jadi pengiring manten. Ambil Tshirt pink, dan kemudian dipakai bersama baju batik untuk acara akad nikah di masjid. Perjalanan ke masjid hanya beberapa menit saja karena cuma dekat, 300 meter lah kira-kira. Sukses akad nikah baju batik dilepas dan yang terlihat Tshirt pink nya. Rupanya pengantin wanita agak kesulitan untuk naik sepeda tandem Polygon biru ini, akhirnya dengan agak cincing kain bisa duduk ke sadel dengan nyaman. Dan mulailah kami genjot ke rumah pengantin yang tadi. andaikan acara mengiring manten ini rutenya lebih jauh, akan lebih berkesan dan kampanye sepeda akan lebih mengena. Iya kan ini bisa untuk kampanye atau promosi kegiatan bersepeda.
Selesai sudah acara mengiring manten, foto-foto sejenak dan persiapan untuk pulang. Beberapa teman ada yang pulang lewat offroad dan ada pula yang onroad sesuai kondisi sepeda yang dibawa. Aku dan dan Pak Rudy mencoba ikut offroad. Jalannya kan turun jadi nggak akan
Jumat, Oktober 17, 2008
1st Nite Ride : Krasak Fun XC
Jam 12.30 di siang hari yang sangat panas 12 oktober 2008 mulailah aku keluar genjot WimCycle dari rumah nyamanku menuju meeting point di terminal Jombor, sekitar 20 km dari rumah. Sangat bersemangat karena ini akan menjadi perjalanan Nite Ride ku yang pertama, bersama anak B2W Jogja. Janjiannya sih 14.00 tapi karena cuaca begitu panas aku berangkat agak awal agar ada waktu untuk beristirahat di perjalanan dan juga di meeting point. Panasnya sangat terasa saat berhenti di traffic light, terutama di wajah, apalagi lupa pakai sun screen lotion, terasa terbakar. Sampai di Monjali aku beristirahat sejenak di halte transjogja dan kembali lanjut ke tujuan yang hanya kurang beberapa kilometer lagi.
Sampai di Jombor ternyata masih sepi dan sambil menunggu masuk ke minimark
et untuk beli minuman & vit C. Tak berapa mas Yuli datang dengan Kona putihnya. Dan kemudian mas Indy yang masuk langsung masuk ke warung burjo. Kami berdua pun mengikutinya sekaligus pesan es jeruk, habis 2 gelas. sekalian numpang shalat ashar di warung tsb. Tiga rekan datang kemudian, mas Hendra penunjuk jalan, Miqdad, dan Bagus.
Jam 15.10 kami mulai berangkat ke sungai krasak. Jalan aspal kami lalui sambil beberapa kali ambil jalur off road ke arah barat, lewat jembatan bambu, keluar masuk perkampungan, halaman rumah orang sambil berkali-kali permisi, pak,.. permisi, bu, ..mbah.... Lewat kono wae mas dalane penak, .. dalan buntu mas, ojo liwat kono... Iki mau do seko ngendi?...kok iso do liwat kene?....dan lain-lain komentar penduduk setempat yang kami lewati. Yang dibilangi hanya senyum-senyum dan terus berlalu. Begitu ada jalan agak panjang dan sepi langsung sprint. Lha aku yang belum pernah beginian agak canggung sampai tersundul ban depan sepeda mas Indy. Yang lain bisa loncat2, aku berusaha tetap nempel di tanah. Aku harus tahu diri bahwa sepedaku nggak mampu untuk begituan. Dari pada nggak bertahan sampai selesai mending menahan diri. Diarah timur mulai terlihat awan hitam dan beberapa mobil yang menyalip terlihat basah. Hujan yang ditunggu segera tiba, itu harapannya. Beberapa saat kemudian pas setelah sepeda nyebur menyeberang selokan hujan pun tiba. Kepala pun aku tambahi topi selain helm, agar percikan air agak tertahan dan mengurangi air di kacamata minusku. Tapi kok hujannya cuma sebentar. Huh.... Genjot lagi dan lagi sampailah kita ke sebuah dam sungai krasak. Sungai Progo pun sebenarnya nggak jauh lagi. Gotong bike untuk turun ke dam. Istirahat sejenak dan foto2.
Untuk turun ke sungai harus 5 kali gotong sepeda melalui tangga naik dan turun yang nggak tinggi sih, tapi hampir tegak lurus. Sepatu dan rodapun tercelup air aliran sungai yang dangkal, hanya bebatuan yang terlindas. Grubrak...! Mas Indy yang paling depan jatuh dengan roll depan, seperti gaya stopie yang kebablasan, roda depannya terjebak bekas galian pasir sedalam 40an cm. Untung sepeda dan badannya gak apa-apa.
Keluar dari sungai kita pun ke track tanah berbatu yang malah dijadikan ajang sprint ria karena panjaang banget dan tiba-tiba ada dua anak sapi yang lari nggak karuan di depanku, mungkin kaget terlewati Mas Hendra yang berada di paling depan sehingga saya yang dibelakangnya kena kagetnya si sapi. Hampir saja... bapak yang punya sapi pun sampai limbung terjatuh bersama sepedanya karena juga panik sapinya lari kesana kemari. Maaf ya pak. Hari sudah gelap lampu sudah dinyalakan, adzan maghrib sudah dari tadi dan diperkampungan kami cari masjid, setelah ketemu dan melihat keadaan baju penuh noda tanah, sholat pun batal karena ragu apa pakaian kita suci. Sepakat untuk di jamak saja di rumah masih-masing. Belum lama beranjak dari masjid hujan deras mengguyur, dan konsentrasi sekarang ada di perut yang kelaparan, tanya tanya di mana ada angkringan nggak ketemu juga, akhirnya masuk warung sate di daerah Balangan, Minggir. Hujan pun reda.
Mulai genjot lagi diringi hujan deras,, hanya beberapa puluh meter menikmati aspal, kembali belok ke offroad, saat berada di tengah sawah adalah saat yang paling mengerikan, gelap, hujan dan petir menyambar tiada henti. Bagaimana jika satu saja mampir ke kita? Menelusuri dekat tepian Progo ke selatan. Tapi kemudian semakin jauh ke timur menjauhi sungai progo. Semua genjot sambil membisu. Eh malah lewat pematang sawah berselokan yang nggak mungkin dilewati sambil naik sepeda. Jadi sepeda lewat selokan dan kita di pematang sebelahnya sambil sekali sekali ngotong sepeda. Wuih.. Mas Miqdad tertinggal karena air mengganggu kacamatanya. Dan sempat pula salah satu lampu peserta rusak, tapi dapat diatasi. Dan ketemu jalan aspal lagi, tapi kok jalan yang dilewati pas makan sate tadi. Walah...
Akhirnya jalan ke selatan offroad. Berkali-kali ketermu jalan buntu sampai mau masuk kuburan juga. Lewatlah lagi nyebrang sungai yang kali ini cukup dalam karena nggak juga menemukan jembatan, padahal setelah nggak jauh jalan terlihat ada jembatan aspal. Nggak apa deh.. asyiknya makin bertambah. Setelah ini kita hanya muter-muter di persawahan untuk menghabiskan waktu dan tenaga yang tersisa. Dan akhirnya sampai di jl Godean akhir perjalanan offroad. Istirahat beberapa waktu, Mas Hendra sempat kram kaki. Jam menunjukkan pukul 21.30 wib. Sudah larut dan rumahku mungkin 25-30 km dari sini. SMS istri agar nggak cemas dan perjalanan pulang dimulai. Lampu ke mode flasing dan melaju kecapatan sedang. Setelah sampai di Galeria aku melaju sendirian karena rumahku paling jauh. Disini tanpa teman baru terasa capek dan sepeda nggak enak bawaannya. Rem depan nggak pakem, rem belakang bunyi nggak karuan dan BB & hub belakang juga dirasa nggak lancar muternya.
100 km sudah perjalananku hari ini. Sampai di rumah jam 22. 50 wib ternyata istri masih setia menunggu, belum tidur. Langsung mandi, makan lagi, minum susu 2 gelas, shalat magrib & isya' dan tidur.
Sampai di Jombor ternyata masih sepi dan sambil menunggu masuk ke minimark
et untuk beli minuman & vit C. Tak berapa mas Yuli datang dengan Kona putihnya. Dan kemudian mas Indy yang masuk langsung masuk ke warung burjo. Kami berdua pun mengikutinya sekaligus pesan es jeruk, habis 2 gelas. sekalian numpang shalat ashar di warung tsb. Tiga rekan datang kemudian, mas Hendra penunjuk jalan, Miqdad, dan Bagus.Jam 15.10 kami mulai berangkat ke sungai krasak. Jalan aspal kami lalui sambil beberapa kali ambil jalur off road ke arah barat, lewat jembatan bambu, keluar masuk perkampungan, halaman rumah orang sambil berkali-kali permisi, pak,.. permisi, bu, ..mbah.... Lewat kono wae mas dalane penak, .. dalan buntu mas, ojo liwat kono... Iki mau do seko ngendi?...kok iso do liwat kene?....dan lain-lain komentar penduduk setempat yang kami lewati. Yang dibilangi hanya senyum-senyum dan terus berlalu. Begitu ada jalan agak panjang dan sepi langsung sprint. Lha aku yang belum pernah beginian agak canggung sampai tersundul ban depan sepeda mas Indy. Yang lain bisa loncat2, aku berusaha tetap nempel di tanah. Aku harus tahu diri bahwa sepedaku nggak mampu untuk begituan. Dari pada nggak bertahan sampai selesai mending menahan diri. Diarah timur mulai terlihat awan hitam dan beberapa mobil yang menyalip terlihat basah. Hujan yang ditunggu segera tiba, itu harapannya. Beberapa saat kemudian pas setelah sepeda nyebur menyeberang selokan hujan pun tiba. Kepala pun aku tambahi topi selain helm, agar percikan air agak tertahan dan mengurangi air di kacamata minusku. Tapi kok hujannya cuma sebentar. Huh.... Genjot lagi dan lagi sampailah kita ke sebuah dam sungai krasak. Sungai Progo pun sebenarnya nggak jauh lagi. Gotong bike untuk turun ke dam. Istirahat sejenak dan foto2.
Untuk turun ke sungai harus 5 kali gotong sepeda melalui tangga naik dan turun yang nggak tinggi sih, tapi hampir tegak lurus. Sepatu dan rodapun tercelup air aliran sungai yang dangkal, hanya bebatuan yang terlindas. Grubrak...! Mas Indy yang paling depan jatuh dengan roll depan, seperti gaya stopie yang kebablasan, roda depannya terjebak bekas galian pasir sedalam 40an cm. Untung sepeda dan badannya gak apa-apa.
Keluar dari sungai kita pun ke track tanah berbatu yang malah dijadikan ajang sprint ria karena panjaang banget dan tiba-tiba ada dua anak sapi yang lari nggak karuan di depanku, mungkin kaget terlewati Mas Hendra yang berada di paling depan sehingga saya yang dibelakangnya kena kagetnya si sapi. Hampir saja... bapak yang punya sapi pun sampai limbung terjatuh bersama sepedanya karena juga panik sapinya lari kesana kemari. Maaf ya pak. Hari sudah gelap lampu sudah dinyalakan, adzan maghrib sudah dari tadi dan diperkampungan kami cari masjid, setelah ketemu dan melihat keadaan baju penuh noda tanah, sholat pun batal karena ragu apa pakaian kita suci. Sepakat untuk di jamak saja di rumah masih-masing. Belum lama beranjak dari masjid hujan deras mengguyur, dan konsentrasi sekarang ada di perut yang kelaparan, tanya tanya di mana ada angkringan nggak ketemu juga, akhirnya masuk warung sate di daerah Balangan, Minggir. Hujan pun reda.
Mulai genjot lagi diringi hujan deras,, hanya beberapa puluh meter menikmati aspal, kembali belok ke offroad, saat berada di tengah sawah adalah saat yang paling mengerikan, gelap, hujan dan petir menyambar tiada henti. Bagaimana jika satu saja mampir ke kita? Menelusuri dekat tepian Progo ke selatan. Tapi kemudian semakin jauh ke timur menjauhi sungai progo. Semua genjot sambil membisu. Eh malah lewat pematang sawah berselokan yang nggak mungkin dilewati sambil naik sepeda. Jadi sepeda lewat selokan dan kita di pematang sebelahnya sambil sekali sekali ngotong sepeda. Wuih.. Mas Miqdad tertinggal karena air mengganggu kacamatanya. Dan sempat pula salah satu lampu peserta rusak, tapi dapat diatasi. Dan ketemu jalan aspal lagi, tapi kok jalan yang dilewati pas makan sate tadi. Walah...
Akhirnya jalan ke selatan offroad. Berkali-kali ketermu jalan buntu sampai mau masuk kuburan juga. Lewatlah lagi nyebrang sungai yang kali ini cukup dalam karena nggak juga menemukan jembatan, padahal setelah nggak jauh jalan terlihat ada jembatan aspal. Nggak apa deh.. asyiknya makin bertambah. Setelah ini kita hanya muter-muter di persawahan untuk menghabiskan waktu dan tenaga yang tersisa. Dan akhirnya sampai di jl Godean akhir perjalanan offroad. Istirahat beberapa waktu, Mas Hendra sempat kram kaki. Jam menunjukkan pukul 21.30 wib. Sudah larut dan rumahku mungkin 25-30 km dari sini. SMS istri agar nggak cemas dan perjalanan pulang dimulai. Lampu ke mode flasing dan melaju kecapatan sedang. Setelah sampai di Galeria aku melaju sendirian karena rumahku paling jauh. Disini tanpa teman baru terasa capek dan sepeda nggak enak bawaannya. Rem depan nggak pakem, rem belakang bunyi nggak karuan dan BB & hub belakang juga dirasa nggak lancar muternya.
100 km sudah perjalananku hari ini. Sampai di rumah jam 22. 50 wib ternyata istri masih setia menunggu, belum tidur. Langsung mandi, makan lagi, minum susu 2 gelas, shalat magrib & isya' dan tidur.
Selasa, Oktober 07, 2008
Lampu Sepeda

Sekarang ini kalau hari mulai sore dan masih bersepeda, aku pakai lampu Cateye HL-EL135 untuk depan, sementara belakang belum ada lampu, hanya pakai skotlet & mata kucing. Baterynya awet bukan main tapi kurang terang, maklum cuman 3 LED 2 batery AA. Bisa kedip-kedip dan nyala konstan. Yang penting aman, kelihatan pengendara lain di jalan.
Sebelumnya pakai lampu halogen merk nggak jelas. Baterynya boros bukan main. Dipakai full 1 jam saja sudah redup, padahal 4 batery. Capek recharge-nya. Maunya... nanti di modif, bolam halogennya di ganti LED, 4 atau 6 biji sekalian. Hasilnya gimana ya?
Langganan:
Postingan (Atom)