Turun lagi nih harga bensin, horeeee.... yang pasti akan semakin mengurangi beban masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Tarif angkot sudah turun di beberapa daerah, beberapa produk juga terlihat turun harga.
Bahan energi satu ini memang masih mendominasi berbagai macam utiliti yang membutuhkan energi. Walaupun sudah begitu banyak pemikiran akan global warming dan energi alternatif pengganti masih saja bensin dan sejenisnya menjadi favorit para penggunanya. Karena teknologinya sudah sangat familiar dan mudah didapat (walaupun belakangan SPBU sering kosong).
Entah mengapa pemerintah masih belum juga mendukung berbagai penemuan energi alternatif walaupun penemunya anak negeri sendiri ( tapi ada juga yang cuma tipu-tipu he..he), bahan bakar air tawar, air laut, minyak tanah dari karet, bahkan ada motor bisa jalan pakai energi tekanan angin kompresor. Begitu pula energi alam seperti panas/cahaya matahari, ombak, angin masih juga belum di exploitasi. Masih berkutat melubangi bumi untuk minyak, batu bara, gas, uap dll. Mungkin terlalu banyak hitung-hitungan uang yang bisa di dapat para pejabat. Filosofi aji mumpung masih dipegang erat. Untuk menjadi pioneer dalam energi non mapan tidak akan mendatangkan keuntungan sesaat. Bisa 10 tahun atau 20 tahun baru bisa menjadi idola. Padahal pada saat itu mungkin sang pejabat pioneer sudah tidak menjabat atau bahkan pensiun, dan nggak dapat apa-apa dehhh.. Sepertinya sangat jarang deh di Indonesia ada expose bahwa ada proyek penelitian atau pengembangan yang akan berefek luar biasa ada dunia 25 tahun mendatang.
Isu Global Warming berhembus kencang, pemerintah juga ikutan menasehati rakyatnya agar hemat BBM untuk mengurangi polusi dan kemacetan, terutama di ibukota. Tapi kenyataannya industri otomotif malahan mendapat dorongan insentif. Walupun sekarang masa krisis, khan bisa yang diutamakan industri yang nggak bertentangan dengan nasehat-nasehatnya kepada rakyat. Aneh ..Dan kemacetan adalah gaya hidup, tinggal mau berubah atau tidak.
Penjualan sepeda motor bekas mulai ramai lagi. Berarti kalangan bawah sudah mulai kembali naik motor. Dan kemacetan akan makin rapat. Saya selalu berdoa agar bisa terus bersepeda, begitu juga dengan B2Wer lainnya.
Tampilkan postingan dengan label ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ekonomi. Tampilkan semua postingan
Sabtu, Januari 24, 2009
Selasa, November 25, 2008
Aku Cinta Indonesia: Memulai dalam lingkup yang paling kecil
Menyentuh sekali kampanye partai gerindra di tv, ajakan untuk kembali memakai produksi dalam negri dan mengkonsumsi hasil petani kita sendiri, menggugah saya untuk kembali sadar bahwa selama ini betapa kita telah di jajah kembali. Terutama produk China yang telah membabi buta di seluruh dunia. Tapi sekarang banyak produk Cina bermasalah dengan kesehatan maupun lingkungan.
Krisis ekonomi yang terjadi saat ini tidak akan terlalu berdampak bagi masyarakat bila kita berusaha untuk mandiri memenuhi kebutuhan sendiri. Hal baik telah dimulai Pak SBY dengan berhasilnya swasembada beras.
Lingkup yang lebih kecil baiknya dimulai dari lingkungan sendiri. Lebih memprioritaskan untuk membelanjakan uang kita di sekitar dalam area yang kecil. Misalnya kalau hanya beli sandal jepit untuk kamar mandi belilah di warung terdekat kita, nggak usah sampai supermarket gede. Begitu pula belanja sayuran. Hal ini juga bermanfaat untukmenjalin silaturahmi dengan tetangga. Tapi jika belanjaan bulanan yang banyak akan lebih ekonomis jika ke supermarket atau pasar tradisional untuk sayurannya. Karena warung biasanya akan lebih mahal karena menerapkan margin yang lebih dari supermarket. Dan pilih supermarket yang pemiliknya orang terdekat kita, baik secara teritorial atau sosial. Selain itu produk yang kita beli juga dipilih produk lokal. Tapi kadang kita terbentur masalah kwalitas dan harga. Tinggal kita hitung hitung mana yang menjadi prioritas. Hal akan berefek luar biasa pada ekonomi daerah sekitar kita. Bayangkan uang belanja kita pergi tidak sampai jauh, hanya sampai ke tetangga. Dan pastinya akan berpeluang kembali ke kita, dalam apapun bentuknya. Sejahteralah lingkungan kita.
Krisis ekonomi yang terjadi saat ini tidak akan terlalu berdampak bagi masyarakat bila kita berusaha untuk mandiri memenuhi kebutuhan sendiri. Hal baik telah dimulai Pak SBY dengan berhasilnya swasembada beras.
Lingkup yang lebih kecil baiknya dimulai dari lingkungan sendiri. Lebih memprioritaskan untuk membelanjakan uang kita di sekitar dalam area yang kecil. Misalnya kalau hanya beli sandal jepit untuk kamar mandi belilah di warung terdekat kita, nggak usah sampai supermarket gede. Begitu pula belanja sayuran. Hal ini juga bermanfaat untukmenjalin silaturahmi dengan tetangga. Tapi jika belanjaan bulanan yang banyak akan lebih ekonomis jika ke supermarket atau pasar tradisional untuk sayurannya. Karena warung biasanya akan lebih mahal karena menerapkan margin yang lebih dari supermarket. Dan pilih supermarket yang pemiliknya orang terdekat kita, baik secara teritorial atau sosial. Selain itu produk yang kita beli juga dipilih produk lokal. Tapi kadang kita terbentur masalah kwalitas dan harga. Tinggal kita hitung hitung mana yang menjadi prioritas. Hal akan berefek luar biasa pada ekonomi daerah sekitar kita. Bayangkan uang belanja kita pergi tidak sampai jauh, hanya sampai ke tetangga. Dan pastinya akan berpeluang kembali ke kita, dalam apapun bentuknya. Sejahteralah lingkungan kita.
Langganan:
Postingan (Atom)