Sampai di Jombor ternyata masih sepi dan sambil menunggu masuk ke minimark
et untuk beli minuman & vit C. Tak berapa mas Yuli datang dengan Kona putihnya. Dan kemudian mas Indy yang masuk langsung masuk ke warung burjo. Kami berdua pun mengikutinya sekaligus pesan es jeruk, habis 2 gelas. sekalian numpang shalat ashar di warung tsb. Tiga rekan datang kemudian, mas Hendra penunjuk jalan, Miqdad, dan Bagus.Jam 15.10 kami mulai berangkat ke sungai krasak. Jalan aspal kami lalui sambil beberapa kali ambil jalur off road ke arah barat, lewat jembatan bambu, keluar masuk perkampungan, halaman rumah orang sambil berkali-kali permisi, pak,.. permisi, bu, ..mbah.... Lewat kono wae mas dalane penak, .. dalan buntu mas, ojo liwat kono... Iki mau do seko ngendi?...kok iso do liwat kene?....dan lain-lain komentar penduduk setempat yang kami lewati. Yang dibilangi hanya senyum-senyum dan terus berlalu. Begitu ada jalan agak panjang dan sepi langsung sprint. Lha aku yang belum pernah beginian agak canggung sampai tersundul ban depan sepeda mas Indy. Yang lain bisa loncat2, aku berusaha tetap nempel di tanah. Aku harus tahu diri bahwa sepedaku nggak mampu untuk begituan. Dari pada nggak bertahan sampai selesai mending menahan diri. Diarah timur mulai terlihat awan hitam dan beberapa mobil yang menyalip terlihat basah. Hujan yang ditunggu segera tiba, itu harapannya. Beberapa saat kemudian pas setelah sepeda nyebur menyeberang selokan hujan pun tiba. Kepala pun aku tambahi topi selain helm, agar percikan air agak tertahan dan mengurangi air di kacamata minusku. Tapi kok hujannya cuma sebentar. Huh.... Genjot lagi dan lagi sampailah kita ke sebuah dam sungai krasak. Sungai Progo pun sebenarnya nggak jauh lagi. Gotong bike untuk turun ke dam. Istirahat sejenak dan foto2.
Untuk turun ke sungai harus 5 kali gotong sepeda melalui tangga naik dan turun yang nggak tinggi sih, tapi hampir tegak lurus. Sepatu dan rodapun tercelup air aliran sungai yang dangkal, hanya bebatuan yang terlindas. Grubrak...! Mas Indy yang paling depan jatuh dengan roll depan, seperti gaya stopie yang kebablasan, roda depannya terjebak bekas galian pasir sedalam 40an cm. Untung sepeda dan badannya gak apa-apa.
Keluar dari sungai kita pun ke track tanah berbatu yang malah dijadikan ajang sprint ria karena panjaang banget dan tiba-tiba ada dua anak sapi yang lari nggak karuan di depanku, mungkin kaget terlewati Mas Hendra yang berada di paling depan sehingga saya yang dibelakangnya kena kagetnya si sapi. Hampir saja... bapak yang punya sapi pun sampai limbung terjatuh bersama sepedanya karena juga panik sapinya lari kesana kemari. Maaf ya pak. Hari sudah gelap lampu sudah dinyalakan, adzan maghrib sudah dari tadi dan diperkampungan kami cari masjid, setelah ketemu dan melihat keadaan baju penuh noda tanah, sholat pun batal karena ragu apa pakaian kita suci. Sepakat untuk di jamak saja di rumah masih-masing. Belum lama beranjak dari masjid hujan deras mengguyur, dan konsentrasi sekarang ada di perut yang kelaparan, tanya tanya di mana ada angkringan nggak ketemu juga, akhirnya masuk warung sate di daerah Balangan, Minggir. Hujan pun reda.
Mulai genjot lagi diringi hujan deras,, hanya beberapa puluh meter menikmati aspal, kembali belok ke offroad, saat berada di tengah sawah adalah saat yang paling mengerikan, gelap, hujan dan petir menyambar tiada henti. Bagaimana jika satu saja mampir ke kita? Menelusuri dekat tepian Progo ke selatan. Tapi kemudian semakin jauh ke timur menjauhi sungai progo. Semua genjot sambil membisu. Eh malah lewat pematang sawah berselokan yang nggak mungkin dilewati sambil naik sepeda. Jadi sepeda lewat selokan dan kita di pematang sebelahnya sambil sekali sekali ngotong sepeda. Wuih.. Mas Miqdad tertinggal karena air mengganggu kacamatanya. Dan sempat pula salah satu lampu peserta rusak, tapi dapat diatasi. Dan ketemu jalan aspal lagi, tapi kok jalan yang dilewati pas makan sate tadi. Walah...
Akhirnya jalan ke selatan offroad. Berkali-kali ketermu jalan buntu sampai mau masuk kuburan juga. Lewatlah lagi nyebrang sungai yang kali ini cukup dalam karena nggak juga menemukan jembatan, padahal setelah nggak jauh jalan terlihat ada jembatan aspal. Nggak apa deh.. asyiknya makin bertambah. Setelah ini kita hanya muter-muter di persawahan untuk menghabiskan waktu dan tenaga yang tersisa. Dan akhirnya sampai di jl Godean akhir perjalanan offroad. Istirahat beberapa waktu, Mas Hendra sempat kram kaki. Jam menunjukkan pukul 21.30 wib. Sudah larut dan rumahku mungkin 25-30 km dari sini. SMS istri agar nggak cemas dan perjalanan pulang dimulai. Lampu ke mode flasing dan melaju kecapatan sedang. Setelah sampai di Galeria aku melaju sendirian karena rumahku paling jauh. Disini tanpa teman baru terasa capek dan sepeda nggak enak bawaannya. Rem depan nggak pakem, rem belakang bunyi nggak karuan dan BB & hub belakang juga dirasa nggak lancar muternya.
100 km sudah perjalananku hari ini. Sampai di rumah jam 22. 50 wib ternyata istri masih setia menunggu, belum tidur. Langsung mandi, makan lagi, minum susu 2 gelas, shalat magrib & isya' dan tidur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar